Rumah mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit. Dalam

Rumah Sakit mengalami tantangan baik dalam kualitaspelayanan maupun pada pola pembayaran pelayanan kesehatan.

Era JKN dewasa inipola pembayaran pelayanan kesehatan telah menggunakan sistem paket casemix berdasarkan INACBG. Tantangandan risiko tersebut menjadi peluang dalam melakukan perbaikan pengelolaanproses pelayanan serta sumber daya secara efisien dan efektif namun tetapmemprioritaskan mutu dan keselamatan pelayanan kepada pasien. (Sakti & Negara, 2015).Rumah sakit sebagaiinstitusi pelayanan kesehatan menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangansecara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawatdarurat (PerPres No 77 Thn 2015).

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

Penyelenggaraan pelayanan Rumah Sakit menurutUndang-undang  No. 44 Thn 2009 memberikanperlindungan terhadap keselamatan pasien dan masyarakat dengan meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayananrumah sakit. Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan tersebut rumah sakit memilikiberbagai kompleksitas permasalahan yang tinggi terkait prosedur, resikoinfeksi, kecelakaan , kesalahan pemberian pengobatan, peningkatan biaya,kekurangan tenaga kerja,  peningkatan kebutuhanfasilitas kesehatan dan perubahan proses pembayaran.Sehingga diperlukan adanyapengelolaan keselamatan pasien yang berguna untuk mengurangi tingkat kesalahandalam memberikan pelayanan kepada pasien.Perawatsebagai  pemberi pelayanan kesehatan mempunyaikontribusi yang besar dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, karena selainperawat memberikan asuhan kepada pasien secara langsung juga berpengaruhterhadap pengendalian biaya perawatan. Pada Peraturan Presiden RepublikIndonesia Nomor 77 Tahun 2015 Pasal 10 menyebutkan bahwa Unsur keperawatandalam bertugas melaksanakan pelayanan keperawatan menyelenggarakanfungsi-fungsi yaitu penyusunan rencana pemberian pelayanan keperawatan,koordinasi dan pelaksanaan pelayanan keperawatan,  pelaksanaan kendali mutu, kendali biaya, dankeselamatan pasien di bidang keperawatan serta pemantauan dan evaluasipelayanan keperawatan (Sakti& Negara, 2015).

Keselamatan pasien merupakan isu global yang sangatpenting, dimana setiap rumah sakit di tuntut untuk mengikuti standar akreditasipelayanan yang berfokus kepada pasien.Keselamatan pasien di rumah sakit menurutPerMenKes RI No. 1691/VIII/ 2011 adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuatasuhan pasien lebih aman yang meliputi assesmen risiko, identifikasi danpengelolaan yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisisinsiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasisolusi. Insiden keselamatan pasien yang dimaksud adalah setiap kejadian yangtidak disengaja dan kondisi yang menyebabkan atau berpotensi mengakibatkancedera yang dapat dicegah pada pasien terdiri dari kejadian tidak diharapkan,kejadian nyaris cedera, kejadian tidak cedera dan kejadian potensial cedera.Salah satu insiden yang terkait dengankeselamatan pasien di rumah sakit adalah komunikasi yang tidak efektif dalamkegiatan handover perawat.

Handover adalah komunikasi yang terjadiantara dua shift perawat dimana tujuannya adalah untuk mengkomunikasikaninformasi tentang pasien yang berada di bawah asuhan perawat.   (Belekoukias, Garza-reyes, & Kumar, 2014)Hasil penelitianLee, Phan, Dorman, Weaver, & Pronovost (2016)pada penelitiannyayang  berjudul Handoffs, safety culture, and practices: evidence from the hospitalsurvey on patient safety culture dikatakan bahwa informasi handover yang efektif dan tanggungjawab berpengaruh positif terhadap keselamatan pasien. Umpan balik dankomunikasi tentang kesalahan berhubungan positif dengan transfer informasipasien, kerja sama tim dalam unit dan frekuensi kejadian yang dilaporkanberhubungan positif dengan pengalihan tanggung jawab pribadi selama perubahanshift, dan kerja sama tim di seluruh unit berhubungan positif dengan unittransfer pertanggungjawaban pasien.

Kesenjangan dalamkomunikasi saat handover pasien, antara unit perawatan dan antar tim pelayananlain dalam suatu rumah sakit dapat mengakibatkan terputusnya kesinambunganpelayanan, pengobatan yang tidak tepat serta memungkinkan terjadinya kesalahanyang beresiko terhadap keselamatan pasien. (WHO, 2007) Hal ini menimbulkanterjadinya pemborosan yang merugikan perawat dan pasien..Menurut Younan & Fralic (2013) dalampenelitian berjudul Using “Best-Fit”Interventions to Improve the Nursing Intershift Handoff Process at a MedicalCenter in Lebanon dikatakan bahwa hambatan yang menyebabkan waste waktu pada handover adalah standarisasi serta prosedur yang tidak memadai,penyalahgunaan waktu, masalah bahasa, keterbatasan data, komunikasi, lingkunganyang kurang kondusif, pencahayaan, kebisingan, kurangnya privasi, belum adanyapelatihan handover, jumlah perawat yang tidak memadai, tim yang kurang solid, multitasking selama laporan, dan interupsiselama laporan. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan handover perawat sangat berpengaruh terhadap tingkat keselamatanpasien di rumah sakit. Untuk itu diperlukan transfer informasi yang efektif danefisien yang mendukung kontinuitas perawatan dan pengobatan pasienDalam menciptakanbudaya perbaikan dan keefektifan dalam handoverperawat,  makadibutuhkan kemampuan pemikiranyang efektif /lean thinkingpada semuaperawat. Lean thingkingmerupakanpemikiran yang bertujuan meminimalisasi hal-hal yang tidak perlu ataupemborosan/waste dan menghasilkan nilai /valuebagi pelanggan.

Pendekatan dengan menggunakan lean thinking bertujuan untuk mengidentifikasi pemborosan yangterjadi selama handoverberlangsung.Metode yang digunakan dalam pendekatan lean thinking menggunakan tahap pembuatan value streaming, mengidentifikasi waste, membuat mappingdan mencari akar penyebab masalah.Untuk mengimplementasikan leanthinkingbagi semua perawat perlu adanya pengembangan,pemberdayaan, dukungan, minat dan komitmen dalam meningkatkankualitas pelayanandan keselamatan pasien( Aij & Veth, 2017).Pengembangandan pemberdayaan serta minat dapat dilakukan melalui suatu pelatihan. Pelatihanmenurut Robbins (2013) merupakan sesuatuyang dilakukan dengan mengajarkan kepada karyawan ketrampilan untuk melakukansuatu program yang berkelanjutan. Pelatihan bersifat formal yang direncanakandan memiliki format terstruktur.

Namun ada pula pelatihan non formal dimana pelatihandilakuan tidak terstruktur, tidak terencana, dan mudah disesuaikan denganindividu dan situasi untuk meningkatkan ketrampilan dan mempertahankan karyawantetap bekerja di suatu organisasi.Pelatihan informal membantu krayawan salingberbagi, berbagi informasi dan memecahkan masalah yang berkaitan denganpekerjaan.Metode pelatihan di tempat kerja meliputi rotasi kerja, magang, tugaspenentu, dan program mentoring formal.Metode pelatihan atau strategi dalam pelayanankesehatan untuk mengurangi pemborosan sehingga tercipta efektifitas danefisiensi biaya operasional yaitu lean manajemen.Lean Manajemen merupakan salah satu trend terkini yang diterapkan dalam manajemen rumah sakit.Lean manajemen adalah strategi manajemenyang menekankan dan berfokus pada efisiensi yaitu meminimalkan penggunaansumber daya yang tidak menambah nilai hasil atau output, tidak menambah biaya produk tetapi mutu produk meningkat,sehingga menghasilkan produk yang bermutu (Sofjan Assauri, 2016).

Penerapan pelatihan lean manajemen selarasdengan teori pembelajaran keperawatan yang menyatakan bahwa Pembelajaranmerupakan pengalaman manusia yang sangat penting sehingga manusia dapatmenggunakan pengetahuannya untuk menjadi kreatif, inovatif , berpikir kritis,memprediksi masa depan, menjelaskan masa lalu dan menghadapi situasi saat ini.Teori pembelajaran mengadopsi beberapa teori keperawatan yang dilakukan padapraktek keperawatan berkelanjutan.Teori pembelajaran mencakup teoripembelajaran perilaku dan kognitif.(McEwen, Melaine; Willis, 2011)Konsep Lean merupakan suatu metode yang dirancang untuk mengeliminasi waste atau pemborosan, mengurangi waktutunggu, memperbaikiperformance danmengurangi biaya.

Terdapat beberapa pemborosan yang terjadi pada pelayanankesehatan antara lain tata letak barang, pengulangan diagnostik penunjang,kelalaian, pemberian obat dengan dosis berlebihan, dan transportasi.Transportasi mencapai bagian prioritas tertinggi yang mempengaruhi kegagalanpenerapan lean manajemen, karenamenyebabkan pemborosan waktu menunggu (Hussain Matloub, 2015).Leanmanajemen berdampak secara tidak langsung kepada keselamatan pasien.

Hal inidibuktikan oleh (Mcfadden & Lee, 2016) pada penelitianyang berjudul  Factors in the Path From Lean to Patient Safety: Six Sigma, GoalSpecificity and Responsiveness Capability  yang menunjukkan hasil bahwa lean manajemen tidak secara langsungmempengaruhi keselamatan pasien, namun sangat penting berperan terhadappelaksanaan Six Sigma yangmenghasilkan peningkatan responsif terhadap pasien. Peningkatan respon tersebutberakibat meningkatkan keselamatan pasien.Sehingga dapat disimpulkan bahwapenerapan six sigma dan lean manajemen saling berhubungan dalammeningkatkan keselamatan pasien.Keberhasilanpenerapan Lean manajemen yangdidapatkan dari hasil penelitian Aij & Veth, (2017) yangberjudul  Leadership Requirements for Successful Implementation of LeanManagement in Health Care: A Systematic Review of the Literature adalahadanya peran kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan yangsukses dalam menerapkan lean manajemenpada perawatan kesehatan adalah pemimpin yang mempunyai pengetahuan tentang 6prinsip pilar Lean.

Prinsip pilarRumah Lean terdiri dari pengembangandiri, pelatihan karyawan, hoshinkanri,gemba, nilai-nilai pelanggan dan identifikasi perilaku kepemimpinan,keterampilan, karakteristik, dan sikap.Suksesnya penerapan lean manajemen juga harus didukung oleh budaya perbaikan secaraterus menerus.Pentingnya peran seorang pemimpin jugadinyatakan pada penelitian yang berjudul APractical Guide to Applying Lean Tools and Management Principles to Health CareImprovement Projects.(Canacari, 2012) yangmenjelaskan bahwa seorang pemimpin menggunakan prinsip lean manajemen untuk menghilangkan pemborosan, merampingkanproses/alur dan melakukan efisiensi biaya. Manajemen Lean diterapkan oleh seorang pemimpin dengan menggunakanlangkah-langkah antara lain mendokumentasikan suatu proses, mengidentifikasimasalah, dan menggunakan proses pemetaan valuestream untuk melakukan perbaikan. Pemimpin dapat membantu stafmengidentifikasi masalah dan mencari akar masalah dengan mempertimbangkanfaktor penyebab terkait metode, alat, lingkungan, sumber daya manusia, danmesin dengan menggunakan diagram fishbone.Perbaikantersebut berfokus kepada peningkatan nilai baik pelanggan internal maupuneksternal.Penelitianyang dilakukan oleh Abuhejleh, Dulaimi & Ellahham (2016) di Uni Emirat Arab didapatkan bahwakeberhasilan program lean manajemenjuga didukung oleh adanya keterlibatan seluruh karyawan disemua tingkatan,pemberdayaan karyawan, partisipasi karyawan, kerja tim, dan adanya reward/penghargaan terhadap karyawan.

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya tantangan pada kebutuhan pasien dan tuntutan pemerintah terhadap suatuorgansasi di bidang kesehatan yang mendorong terciptanya suatu inovasi dibidangkesehatan. Keberhasilan dari penerapan inovasi tersebut mencakup peningkatankeamanan dan kepuasan pasien, terciptanya budaya lean manajemen di rumah sakit,mengurangi waktu tunggu pasien  di rawat jalan mencapai 60 menit sehinggawaktu tunggu menjadi 4–6 menit, artinya tingkat kepatuhan waktu meningkat dari58% menjadi 98%. (Ulhassan, Schwarz, Thor, & Westerlund, 2014).Hasil penelitianterkait dapat disimpulkan bahwa penerapan Leanmanajemen sangat berpengaruh positif terhadap keselamatan pasien, efisiensikeuangan, adanya penghapusan aktivitas yang tidak perlu dilakukan, efisiensidibidang peralatan, mengurangi waktu tunggu, keterlibatan karyawan, memperbaikiperformance serta peningkatan kualitaspelayanan.

Rumah Sakit Carolusadalah Rumah Sakit tipe B yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan,dan gawat darurat. Pelayanan rawat inap adalah bagian dari pelayanan Rumahsakit yang memiliki kompleksitas permasalahan karena memberikan pelayananasuhan pada pasien secara  berkelanjutan.Pelayanan rawat inap melibatkan berbagai departemen dan praktisi kesehatandalam pemberian asuhan yang berkesinambungan.Untuk mewujudkan asuhan pasienyang berkesinambungan, diperlukan koordinasi antara para dokter, perawat dantenaga kesehatan lainnya.Dari hasil wawancaradengan komite keperawatan, didapatkan informasi bahwa penelitian tentang Lean manajemen belum pernah dilakukan diRS St Carolus. Penelitian ini juga dilakukan untuk mengidentifikasi leanmanajemen  yang digunakan perawat dalam efektifitas handover.Dengan harapan hasil penelitianini dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan keselamatan pasien.

1.      1.1.      A.     RumusanMasalah :        Sejak awal tahun 2017 Rumah SakitCarolus mengalami berbagai permasalahan terkait pembiayaan rumah sakit.Kompleksitas permasalahan  tersebutdisebabkan adanya waste yangberdampak pada kuantitas dan kualitas pelayanan yang diberikan kepadapelanggan.

Data lain hasil audit pelaporan yang dilakukan tim keselamatanpasien pada triwulan ke tiga tahun 2017 didapatkan bahwa kejadian terkaitkeselamatan pasien mengalami peningkatan diantaranya kesalahan prosedur klinik31%, kejadian jatuh sebanyak 26,2%, medical error 26,2%. Berdasarkan laporanTim Keselamatan Pasien, didapatkan insiden keselamatan pasien yang terjadi saatpergantian dinas pada tahun 2016 mencapai 4 kejadian terkait dengan pengobatan.Sedangkan  pada bulan Januari sampaidengan September 2017 insiden keselamatan pasien terkait handover mencapai 6 kasus dengan 5 kejadian kesalahan pemberianobat  dan 1 kesalahan terkait pemeriksaanlaboratorium. Hal ini merupakan kesenjangan dalammemberikan perawatan yang menjamin keselamatan pasien.

Sasaran keselamatanpasien adalah syarat yang ditetapkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit untuksemua rumah sakit yang mengacu kepada Nine life safing Patient Safety Solutiondari WHO Patient Safety (2007). Datahasil observasi dan pengamatan peneliti terkait dimensi kecepatan pelayananditinjau dari kegiatan handover pagihari pada perawat bulan Oktober 2017 dari 7 unit perawatan Medikal Bedah, RumahSakit St Carolus Jakarta didapatkan hasil bahwa adanya waste/pemborosan waktupelaporan karena sistem laporan yang tidak terstruktur dan mengalami banyakhambatan. Hambatan dalam handoverantara lain 100% adanya interupsi, 85% lingkungan tidak kondusif, 85 % laporantidak terstruktur, 85% keterbatasan data, dan 30% jumlah perawat tidak memadai.

Hambatan lain terlaksananya handoveryang efektif antara lain berkaitan dengan kompetensi yang kurang baik daripemberi informasi maupun penerima informasi. Karena tingkat pendidikan, usiadan pengalaman yang kurang dalam melakukan handover.     Menurut Nursalam (2008)serah terimaadalah suatu cara dalam menyampaikan sesuatu (laporan) yang berkaitan dengankeadaan klien. Serah terima adalah waktu dimana terjadi perpindahan atautransfer tanggungjawab tentang pasien dari perawat yang satu ke perawat yanglain. Tujuan serah terima  adalahmenyediakan waktu, informasi yang akurat tentang rencana perawatan pasien,terapi, kondisi terbaru, dan perubahan yang akan terjadi dan antisipasinya.     Hasilwawancara tidak terstruktur dengan perawat di unit perawatan diketahui bahwasosialisasi tentang Lean Manajemen diRumah Sakit St Carolus sudah dilakukan sejak tahun 2014 oleh tim yang telahmendapatkan pelatihan tentang Lean manajemendi perusahan Toyota. Sosialisasi yang dilakukan adalah berupa road showtim Lean manajemen ke unit unit perawatan di RS St.

Carolus. Namun Road show tersebut kurang efektifdirasakan oleh karyawan unit perawatan karena beberapa kendala pada saatpelaksanaannya yang menyebabkan sebagian besar perawat tidak tersosialisasi.      Lean manajemen menurut Graban (2012) dalambukunya berjudul Lean Hospital Improvingquality, patient safety and employee mendefinisikan lean adalah kumpulankonsep, alat dan prinsip yang digunakan untuk membuat dan memberikan pelayananyang bernilai dan berfokus kepada pelanggan dengan menggunakan sumberdaya yang sedikitmungkin dan memaksimalkan penggunaan pengetahuan serta ketrampilan seseorang. Berdasarkanlatar belakang permasalahan yang ada di RS Carolus dan beberapa literatur yangmendukung, maka rumusan masalah penelitian yaitu bagaimana Pengaruh pelatihan lean manajemen terhadap kemampuan lean thinking dan efektifitas handover perawat dalam meningkatkan budayakeselamatan pasien di Rumah Sakit St Carolus, Jakarta ?