Moh. wawancara, observasi, dokumen, dan angket pelestarian budaya lokal.

Moh. Imron Rosidi. (2017).

Penerapan Model Pembelajaran Ips Berbasis Nilai-Nilai Tradisi Kebo-Keboan Di Sekolah DasarNegeri 1 Singojuruh KabupatenBanyuwangi Untuk Melestarikan Budaya Lokal. Jurnal IlmiahSekolah Dasar. Vol.1 (2) pp. 122-127. PENERAPAN MODELPEMBELAJARAN IPS BERBASIS NILAI- NILAI TRADISI KEBO-KEBOAN DI SEKOLAH DASARNEGERI 1 SINGOJURUH KABUPATEN BANYUWANGI UNTUK MELESTARIKAN BUDAYA LOKALMoh.

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

Imron Rosidi *1 ProgramStudi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universtas Bakti Indonesia Banyuwangi  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahuipenerapan dan hasil pembelajaran IPS berbasis nilai-nilai tradisi kebo-keboandi SDN 1 Singojuruh untuk melestarikan budaya lokal. Penelitian ini menggunakanmetode penelitian tindakan kelas dengan duasiklus. Pengumpulan datadilakukan dengan wawancara, observasi, dokumen, dan angket pelestarian budaya lokal. Datayang terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif kuantitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap siswa untuk melestarikan budaya lokalmengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan kenaikan pada siklus I dan II,pada siklus I siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimum sebesar 56,88%dengan nilai rata-rata 73,34 dan pada siklus II ketuntasan belajar siswa  mencapai  78,50% dengan  nilai  rata-rata 78,20.

Kesimpulan dalam penelitian inii adalah penerapanpembelajaran IPS berbasis nilai-nilai tradisi kebo-keboandapat meningkatkan hasil belajar dan melestarikan budaya lokal.  Kata Kunci:                      pembelajaran IPS, tradisi kebo-keboan, budaya local  Pendahuluan Kurikulum erat kaitannya denganperubahan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Kurikulum juga tidaklepas dari perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sertaseni dan budaya (Kurniasih dan Sani, 2014). Oleh karenanya, perubahan kurikulumadalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi dalam bidang pendidikan. Perubahandan perkembangan kurikulum akan secara terus menerus terjadi. Perubahan danperkembangan tersebut  dimagsudkan  agar suatu  kurikulum mampu menjawabtantangan zaman yang terus berubah dan mempersiapkan peserta didik yang mampubersaing di masa depan dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.Kurikulum memiliki tantanganinternal dan exsternal dalam perkembangannya.

Agung (2014) mengemukakan bahwa”Tantangan internal terkait dengan perkembangan penduduk Indonesia usiaproduktif lebih banyak dari usia tidak produktif. Berdasarkan permendikbudNomor 67 Tahun 2013, tatangan internal perkembangan kurikulum adalah bagaimanamengupayakan agar sumber daya manusia usia produktif yang melimpah ini dapatditrasformasikan menjadi sumber daya manusia yang memiliki kompetensi danketerampilan melalui pendidikan”Sedangkan tantangan exsternalperkembangan kurikulum terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yangterkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi,kebangkitan industri kreatif dan budaya, serta perkembangan pendidikan ditingkat internasional (Permendikbud Nomor 67 tahun 2013). Pendidikan adalahsarana yang paling ampuh untuk mengembalikan generasi muda ke arah yangdicita-citakan pendiri bangsa. Menurut Tilaar (2000) ada tiga hal yang perludikaji ke dalam pendidikan antara lain yaitu: (1) pendidikan tidak dapatdibatasi hanya sekolah belaka. Dengan membatasi pendidikan sebagai sekolah makapendidikan terasing dari kehidupan yang nyata dan masyarakat terlempar daritanggung jawabnya dalam pendidikan, (2) pendidikan bukan hanya untukmengembangkan intelegensi akademik peserta didik, (3) pendidikan ternyata bukanhanya membuat manusia pintar tetapi yang lebih penting ialah manusia yangberbudaya dan menyadari hakikat tujuan penciptaannya. Hal ini selaras denganpendapat Sindhunata (2000) bahwa tujuan pendidikan bukan hanya manusiayang terpelajar tetapimanusia yang berbudaya. Berdasarkan pada pendapat *Corresponding author.E-mail Addresses: [email protected]

com (Moh. Imron Rosidi),tersebut di atas bahwa pendidikan tidak hanya untukmengembangkan  intelegensi  akademik peserta  didik untuk menjadipintar tetapi juga menjadi manusia yang berbudaya maka guru IPS dituntut untukmampu mengembangkan kurikulum  secarakreatif dengan memanfaatkan potensi budaya lokal yang ada  di lingkungan kehidupan siswa. Berkaitan denganbudaya sebagai basis pendidikan untuk menumbuhkan sikap siswa dalammelestarikan budaya lokal perlu mendapat perhatian guru dalam mengembangkanmateri pelajaran.Budaya lokal biasanya didefinisikansebagai budaya asli dari suatu kelompok masyarakat tertentu (Senen, 2013).Menurut J.W. Ajawaila, budaya lokal adalah ciri khas budaya sebuah kelompokmasyarakat lokal. Akan tetapi, tidak mudah untuk merumuskan atau mendefinisikankonsep budaya lokal.

Menurut Irwan Abdullah, definisi kebudayaan hampir selaluterikat pada batas-batas fisik dan geografis yang jelas. Oleh karena itu, batasgeografis telah dijadikan landasan untuk merumuskan definisi suatu kebudayaanlokal (Mahendrwan, dkk., 2016). Pembelajaran berbasis budaya akan mampumenjadikan pembelajaran lebih bermakna, yakni bermanfaat karena dapat membantusiswa dalam kehidupan sehari-hari (Dibia, dkk., 2017; Hutama, 2016).Kebo-keboan sebagai salah satutradisi di Kabupaten Banyuwangi memiliki kedudukan dan nilai tersendiri dimatamasyarakat dan siswa di Kabupaten Banyuwangi.

Kedudukan nilai-nilai tradisikebo- keboan dalam pembelajaran IPS digunakan untuk mengembangkan materipembelajaran IPS yang berkaitan dengan pengembangan nilai-nilai kehidupan yangperlu dimiliki siswa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Sebagai bagian dari budaya nasional nilai-nilai luhur yang dimiliki olehtradisi kebo-keboan dapat digunakan sebagai sumber referensi guru untukdikembangkan dalam menyampaikan materi pembelajaran untuk memperteguhbudaya  nasional  agar dapat membentengi siswa dari pengaruh negatif globalisasi yang tidaksesuai dengan budaya bangsa. Keberhasilan guru dalam menanamkan nilai-nilaitradisi kebo-keboan dalam pembelajaran akan dapat memberikan pemahaman kepadasiswa dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan  nilai-nilai dalam tradisikebo-keboan dan juga melestarikan budaya lokal yang ada di lingkungan siswa.Pembelajaranberbasis budaya lokal sebenarnya dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum disemua jenjang pendidikan baik dalamKurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP) maupunKurikulum 2013 (K-13) yang memberikan keluasan guru untuk mengembangkanmateri pelajaran, akan tetapi di SDN 1 Singojuruh saat ini masih memberlakukanKTSP. Mengatasi permasalahan yang ada dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDperlu dilakukan perbaikan dalam hal model pembelajaran dan materi pelajaran.

Solusiyang ditawarkan adalahpenerapan model pembelajaran IPS dengan mengintegrasikan nilai-nilai yangterkandung dalam tradisi kebo-keboan yang merupakan kebudayaan yang dimilikiKabupaten Banyuwangi.Berdasarkan hasil wawancara terhadapguru, kebanyakan siswa kelas IV SDN 1 Singojuruh tidak mengetahui budaya apa yang dimiliki oleh Kabupaten Banyuwangi, seharusnya materi tersebutterdapat pada Kompetensi Dasar(KD) 1.4 yaitumenghargai keragaman sukubangsa dan budayasetempat. Setelahdikonfirmasi dengan guru kelas IV materi yang diajarkan oleh guru dalam pembelajaran IPS berdasarkanbuku LKS dan buku paket memang tidak ada materi tentang pengenalan budaya lokalKabupaten Banyuwangi dan guru tidak memberikan wawasan tentang budaya lokalyang dimiliki oleh Kabupaten Banyuwangi karena materitentang budaya lokaltersebut sudah terdapatdalam mata pelajaran muatan lokal. Mengingat pentingnya nilai-nilai yang ada dalambudaya lokal, sudah seharusnya dalam setiap pembelajaran yang dilaksanakanmengintergrasikan nilai-nilai budaya lokal yang ada. Salah satu nilai budaya lokalyang bisa diintegrasikan khususnya di Kabupaten Banyuwangi adalah tradisikebo-keboan. Metode Penelitian ini dilaksanakan pada siswakelas IV SDN 01 Singojuruh dan jenis penelitian yang digunakan adalahPenelitian Tindakan Kelas (PTK).

Menurut Arikunto (2015) penelitian tindakankelas adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuahtindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secarabersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau  dengan  arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa.Menurut Wiriaatmadja (2014) penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisipraktik pembelajaran, dan belajar dari pengalamannya sendiri.

Guru dapatmencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktik  pembelajaran dan melihat pengaruh nyata dariperbaikan tersebut. Kunandar (2013) mendefinisikan penelitian tindakan kelasmerupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru atau bersama-sama denganorang lain (kolaborasi) yang bertujuan untuk memperbaiki  atau meningkatkan  mutu  proses pembelajaran. Dari beberapa definisitersebut di atas, penelitian tindakan kelas dapat  didefinisikan sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukantindakan-tindakan  tertentu  untuk memperbaiki dan meningkatkan praktikpembelajaran di kelas secara berkualitas sehingga siswadapat memperoleh hasil belajaryang lebih baik.

Adapun prosedurpenelitian tindakan kelas yang harus dilalui adalah perencanaan (planning), tindakan(acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting)(Wardhani, 2010). Hal ini sesuai dengan yang dilakukan oleh peneliti yakniobservasi kegiatan pembelajaran IPS di kelas IV SDN 1 Singojuruh dan memberikantindakan berupa pemberian materi pembelajaranberbasis nilai-nilai tradisikebo-keboan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam halmelestarikan kebudayaan lokal yang dimliki oleh Kabupaten Banyuwangi. Indikatorkeberhasilan penelitian adalah terjadinya peningkatan kemampuan siswa dalammelestarikan kebudayaan lokal dengan nilai minimal rata-rata kelas kelas 75dengan persentase ketuntasan sebesar 75% dari seluruh siswa.Pengumpulan data dilakukan denganwawancara, observasi, dokumen, dan angket pelestarian budaya lokal. Berbagaicara dilakukan dalam mengumpulkan data untuk menghasilkan  data yang  kredibel, sebagaimana yangdiungkapkan Sutopo (2006) bahwa pengumpulan sumber dari berbagai  metode merupakan suatu teknik analisis yangmantap untuk menarik kesimpulan, sehingga untuk menafsirkan sesuatu dibutuhkanlebih dari satu sudut pandang supaya data lebih lengkap, mantap, dan mendalamuntuk menyimpulkan sesuatu. Angket melestarikan budaya lokal diujicobakanterlebih dahulu untuk mengukur validitas dan realibilitasnya. Instrumen yangtelah memenuhi syarat validitas dan realibiltas dapat dijadikan pedoman yangakurat dan sahih untuk mengukur hasil penelitian  (Azwar, 2013).

Hasil uji dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 1.Rangkuman Hasil Analisis Validitas dan Realibilitas Instrumen Tes Validitas Realibiltas Valid Tidak Valid Angket 22 8 0,845  Analisis data untuk ketuntasan belajarsiswa dilakukan dengan perhitungan sederhana dengan rumus Hasil dan Pembahasan Penelitianini dilakukan dengan 2 siklus, tiap siklusnya terdiri dari dua kali pertemuan.Berdasarkan hasil observasi dan wawancara diketahui bahwa kebutuhan siswa diSDN 1 Singojuruh adalah materi pembelajaran budaya lokal Kabupaten Banyuwangi,sehingga peneliti dan guru kelas berkolaborasi merancang Rencana PelaksanaanPembelajaran, bahan ajar, dan media audio-visual pembelajaran berbasisnilai-nilai tradisi kebo-keboan sesuai kebutuhan siswa yang berorientasi padaparadigma pembelajaran yang berpusat pada siswa, hal ini peneliti lakukankarena sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Suprijono (2015) bahwapembelajaran merupakan dialog interaktif dan pusat pembelajaran berada padapeserta didik.Pada siklus I, guru melaksanakanpembelajaran dimulai dengan apersepsi dan menerangkan sekilas materi tentangtradisi kebo-keboan dengan dilanjutkan menampilkan media  audio-visual yang telah disiapkan sebelumnya. Pada kegiatan selanjutnya guru memintasiswa menentukan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi kebo-keboanyang dilihat siswa  dan  mempersilahkan  siswa menyampaikan gagasan dalam forum kelas untuk ditanggapi oleh siswa yanglain.

Diakhir pembelajaran guru dan siswa menyimpulkan nilai-nilai yangterkandung dalam tradisi kebo-keboan yakni nilai kebersamaan, toleransi, pedulisosial dan cinta tanah air.Pada pertemuan kedua gurumelanjutkan materi sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran sesuai denganRPP. Guru membuka pelajaran, melakukan apersepi dan menampilkan videopembelajaran sembari mempersilahkan siswa mencatat hal-halpenting dalam video dan menyampaikangagasannya, kemudian guru dan siswa menyimpulkan nilai-nilai yang terkandungdalam tradisi kebo-keboan yakni peduli lingkungan dan peduli sosial.Selanjutnya guru melakukan evaluasi melalui angket nilai-nilai kebo-keboan danpada siklus I siswa telah mencapai ketuntasan 56,88% dari 30 siswa dengan nilairata-rata kelas 73,34 dengan nilai terendah 58  dan tertinggi 85.

Jumlah siswa yang mendapatkan ketuntasan belajar hanya14 orang siswa.Berdasarkan hasil refleksi yangdilakukan peneliti dan guru mengambil keputusan untuk melanjutkan ke siklus II,karena dalam pelaksanan siklus I guru belum maksimal dalam memberikan materidan contoh-contoh kongkrit dkarenakan guru belum terbiasa dengan materi dansumber belajar yang baru adapun strategi pembelajaran dinilai kurang sesuaikarena siswa dalam mengerjakan instruksi gurubekerja secara individual, hal inilah yang menyebabkan hasil siswa belum mencapai indikatorketuntasan minimum yang telah ditetapkan dalam penelitian. Semuakekurangan pada siklus I akan diperbaiki pada siklus II.Pada pembelajaran siklus II Gurusudah mulai menguasai materi dengan memberikan contoh- contoh yang kongkritpada siswa, banyak memberikan bimbingan secara merata. Siswa tidak lagimengerjakan secara individu setelah melihat video pembelajaran, akan tetapidiminta diskusi  dengan teman sebangkunyadan hasil kerjasama mereka yang didiskusikan ke dalam kelas besar dan diakhirpembelajaran siswa lebih aktif daripada guru dalam menyimpulkan hasilpembelajaran IPS berbasis nilai- nilai tradisi kebo-keboan. Hal ini selarasdengan prinsip pengembangan pembelajaran IPS di SD yang  harus dilaksanakan dalam  suasana hubungan komunikasi yang baik antarapeserta didik dan pendidik  agar terciptasuasana kelas yang kondusif dan interaktif (Susanto, 2014).

Pada siklus II, siswa telah mencapaiketuntasan sebesar 78,50% dari 30 siswa dengan nilai rata- rata 78,20 dengannilai terendah 65 dan tertinggi 96 dan jumlah siswa tuntas seanyak 24 siswa.Hal ini tergambar dalam tabel dan diagram berikut : Tabel.  2 Ketuntasan Belajar Siswa No Siklus Jumlah siswa Nilai Rata-Rata Kelas Ketuntasan belajar (%) ? 75 ? 75 1 I 30 16 14 73,34 56,88 2 II 30 6 24 78,20 78,50  Padasiklus I diketahui bahwa siswa yang tuntas hanya 56,88% dan pada siklus IIKetuntasan belajar siswa meningkat menjadi 78,50% karena siswa sudah lebihmemahami materi di bandingkan siklus sebelumnya. Peningkatan ketuntasan belajar siswa kelas IV SDN 1 Singojuruh untuk setiap siklus setelah menggunakan pembelajaranberbasis nilai-nilai tradisi kebo-keboan dapat ditampilkan seperti pada diagram berikut: Gambar. 1 Diagram Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dari hasil perolehan post tes siklusI dan siklus II peneliti banyak menemukan perubahan- perubahan pada sikappemahaman siswa dalam melestarikan budaya lokal.

Secara keselurahan dapatdikatakan bahwa masing-masing siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakanmateri nilai-nilai tradisi kebo-keboan memperoleh kenaikan skor sikap pemahamanpelestarian budaya lokal.Hasil penelitian ini sejalan denganpenelitian yang dilakukan oleh Anwar Senen pada tahun 2013 dengan judul”Menumbuhkan Sikap Mendem Jero Mikul DuwurMelalui Pembelajaran IPS (Suatu Kajian Pendidikan Nilai Berbasis KearifanLokal Budaya Jawa)”. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakatJawa memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang luhur dalam bersikap danbertingkah laku sesuai dengan nilai budaya Jawa yang perlu diwariskan kepadagenerasi berikutnya dan diintegrasikan dalam pembelajaran IPS dan pembelajaranIPS berbasis kearifan lokal masyarakat Jawa di sekolah telah memberikan dampakpositif terhadap siswa, sekolah, dan masyarakat.Mengacu pada hasil penelitianterdahulu dan hasil penelitian penerapan pembelajaran IPS  berbasis nilai-nilai tradisi kebo-keboan yangdilakukan oleh peneliti dapat dikatakan bahwa dengan  adanya materi budaya lokalnilai-nilai tradisi kebo-keboan, siswa lebih mengenal dan telah memahami budayasebagai warisan leluhur yang perlu dijaga dan dilestarikan. Penerapan modelpembelajaran IPS ini terbukti efektif dalam mewariskan nilai budaya dan tradisipada generasi muda di Kabupaten Banyuwangi merujuk pada hasil yang telah dicapai.Hasil penelitian tersebut jugasejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mahendrawan (2016) danDibia, dkk. (2017) bahwa pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai budayalokal dapat memberikan pengaruh yang signifikan.

Hal ini dikarenakanpembelajaran akan dapat memberikanpemahaman kepada siswa dalam bersikap dan bertingkah laku sesuaidengan nilai-nilai dalam tradisi kebo-keboan dan juga melestarikan budaya lokalyang ada di lingkungan siswa Simpulan dan Saran Hasilpenerapan pembelajaran IPS berbasis nilai-nilai tradisi kebo-keboan di SDN 1Singojuruh untuk melestarikan budaya lokal berdasarkan tindakan siklus I dan IIyaitu: Hasil tes siklus I nilai tertinggi 85 dan nilai terendah 58, nilairerata adalah 73,34 dengan persentase siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimum  sebesar  56,88%. Pada siklus  II,  nilai tertinggi  96 dan  nilai  terendah 65 dengan nilai rerata 78,20 dengan persentase siswa yangmencapai kriteria ketuntasan minimum sebesar 78,50%. Dengan demikian hasilbelajar IPS siswa mengalami peningkatan dengan menerapkan pembelajaran berbasis nilai-nilai tradisikebo-keboan di SDN 1 Singojuruh.Berdasarkan hasilpenelitian dan kesimpulan diatas, maka dapatdiberikan beberapa saran sebagaiberikut: pertama Bagi Siswa kelas IV di SDN 1 Singojuruh sebaiknya lebihberkonsentrasi dalam mengikuti pembelajaran IPS, mengingat pentingnyapembelajaran IPS sebagai bekal hidup dalam bermasyarakat dan bernegara. Apabilaada hal yang kurang berkenan dalam pembelajaran, seperti kurangnya inovasidalam hal penggunaan media dan strategi pembelajaran yang monoton jangan ragusampaikan keinginan kepada guru kelas.

Kedua Bagi Guru sebaiknya mencarikansolusi dalam pembelajaran IPS dengan mengintegrasikan materi pelajaran denganbudaya lokal yang ada di sekitar siswa demi tercapainya tujuan pembelajaran IPSdan lebih memanfaatkan fasilitas yang telah dimiliki oleh sekolah secaramaksimal. Penggunaan media pembelajaran untuk lebih sering digunakan dalampenyampaian pesan pembelajaran karena sangat diharapkan dan diminati siswa untuk lebih tercapainyatujuan dalam pembelajaran IPS. Ketiga Bagi Sekolah sebaiknya tetap menggunakanmateri nilai-nilai tradisi kebo-keboan dalam pembelajaran IPS kelas IV karenaindikator dan materi lebih dekat dengan pengalaman nyata siswa. keempatBagi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, khususnya Dinaspendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi sebaiknya membentuk timuntuk meninjau kesesuaian KTSP dengan silabus terkait materi yang disampaikandi kelas, khususnya di sekolah dasar kelas IV mata pelajaran IPS karakteristikdan kebudayaan lokal Banyuwangi yang harus disampaikan dan diajarkan untuk menguatkan budaya lokal Banyuwangi dalam pelajaran belumdirumuskan secara jelas.

   ReferencesAgung A. A. Gede.

(2014). ArahPenelitian Pendidikan Dasar(Ke-SD-an) Berorientasi Kurikulum 2013. Makalah disajikan dalam Seminar Akademik jurusanPGSD, UNDIKSHA, Singaraja 14 Oktober 201Arikunto, S., Suhardjono, dan Supardi. (2015). Penelitian TindakanKelas. Jakarta: Bumi Aksara Azwar, S.

(2013). Reliabilitas dan Validitas.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Dibia, I Ketut, I Putu MasDewantara, I Wayan Widiana (2017). Pemberdayaan Teknik Bercerita BerbasisBudaya Bali Dalam Pembelajaran Keterampilan Menulis Karangan Pribadi SiswaKelas V SD Mutiara Singaraja. Journal of Education Research and Evaluation.Vol.

1 (2) pp. 113-119.Hutama, F.S. (2016).

PengembanganBahan Ajar IPS Berbasis Nilai Budaya Using Untuk Siswa Sekolah Dasar. JurnalPendidikan Indonesia. Vol. 5, No.2, Oktober 2016.

pp: 785-797.Kunandar.(2013). Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan ProfesiGuru.Jakarta: RinekaCipta.

Kurniasih. Imas dan Berllinn Sani. (2014). Sukses Mengimplementasikan Kurikulum 2013.Jakarta: Kata PenaMahendrawan, I Gede Setya, I NyomanMurda, I Wayan Widiana. (2016). Analisis Rekonstruksi Nilai-Nilai Budaya LokalDalam Pembelajaran Dengan Kurikulum 2013. e-Journal PGSD Universitas PendidikanGanesha Mimbar PGSD Vol: 6 No: 3 Tahun: 2016Permendikbud No.

65 Tahun 2013 tentang Standar Proses PendidikanDasar dan Menengah. Permendikbud No. 66 Tahun 2013 tentang STandar PenilaianPendidikanPermendikbud No. 67 Tahun 2013tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah IbtidaiyahSenen, A.

(2013). Menumbuhkan Sikap Mendem Jero Mikul Duwur Melalui Pembelajaran IPS (Suatu Kajian Pendidikan Nilai Berbasis KearifanLokal Budaya Jawa). Prosiding Seminar Nasional Implementasi Kurikulum 2013 dan Aktualisasi Pendidikan Ilmu PengetahuanSosial dalam Upaya Memantapkan Insan Berkarakter, hlm 178-186. Banjarmasin:Jurusan Pendidikan IPS FKIP  Unlam,Program Pascasarjana Pendidikan IPS Unlam dan Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia (HISPISI) Banjarmasin.Sindhunata.(2000).

Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.Suprijono, A. (2015). Cooperative Learning: Teori& Aplikasi PAIKEM.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Susanto, A. (2014).Pengembangan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana PrenadamediaGroup.Sutopo, H.

B. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif.

Surakarta:Universitas Sebalas Maret. Tilaar, H.A.R. (20000. Paradigma Baru PendidikanNasional.

Jakarta: Rineka Cipta.Wardhani, I.G.A.

K dan Wihardit, K. (2010). Penelitian TindakanKelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wiriaatmadja, R.(2014). Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru danDosen.Bandung:Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia dan PT Remaja Rosdakarya.