BAB tentang keadaan perusahaan antara prinsipal dan manajer, sehingga

BAB 1PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laporan keuangan merupakan bentukpertanggungjawaban manajemen dalam mengelola sumber daya yang dimilikiperusahaan serta sebagai informasi yang mencerminkan kinerja perusahaan.Menurut Algery (2013), investor cenderung hanya memerhatikan angka laba yangtersaji dalam laporan keuangan tanpa memerhatikan proses yang digunakan untukmencapai tingkat laba tersebut. Mengetahui begitu pentingnya informasi laba inimembuat manajer sering melakukan tindakan dysfunctional behaviour (perilakutidak semestinya). Jensen dan Meckling (1976)menggambarkan perusahaan sebagai hubungan kontraktual antara pemegang sahamsebagai prinsipal yang memberi wewenang dan manajer sebagai agen yang menjalankanwewenang tersebut.

Prinsipal akan mempercayakan semua aktivitas perusahaan danmendelegasikan beberapa wewenang pengambilan keputusan kepada manajer. Semuahak dan tanggung jawab prinsipal dan agen akan ditentukan dalam kontrakhubungan pekerjaan. Adanya asimetri informasi antaraprinsipal dan manajer akan menimbulkan masalah keagenan (agency problem).Terdapat dua jenis permasalahan yang ditimbulkan oleh asimetri informasi yaitu adverseselection dan moral hazard (Jensen dan Meckling, 1976).

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

Adverse selectionadalah suatu keadaan yang disebabkan karena ketimpangan informasi tentangkeadaan perusahaan antara prinsipal dan manajer, sehingga informasi yangmungkin dapat memengaruhi keputusan prinsipal tidak disampaikan oleh manajer.Selanjutnya, moral hazard adalah kegiatan yang dilakukan oleh manajeryang tidak seluruhnya diketahui oleh prinsipal, sehingga manajer dapatmelakukan tindakan yang melanggar kesepakatan kontrak kerja dan cenderungbertindak oportunis.Terdapat tiga pola atau strategi dalammelakukan manajemen laba (Wild, Subramanyam, dan Halsey , 2005:120 dalamSugiri, 1998 dan Scott, 1997) terdapat (1) Increasing Income (meningkatkanlaba), yang dilaporkan pada periode kini untuk membuat perusahaan dipandanglebih baik. Cara ini juga memungkinkan peningkatan laba selama beberapaperiode. (2) Big Bath, dilakukan melalui penghapusan sebanyak mungkinpada satu periode.

Periode yang dipilih biasanya periode dengan kinerja yangburuk atau peristiwa saat terjadi satu kejadian yang tidak biasa, sepertiperubahan manajemen, merger, atau akuisisi. Pola ini juga sering kali dilakukansetelah pola peningkatan laba periode sebelumnya. Dan (3) Income Smoothing (perataanlaba) yang merupakan bentuk umum dari manajemen laba dimanamanajer meningkatkan atau menurunkan laba yang dilaporkan untuk mengurangifluktuasinya.Ada beberapa tindakan manajemen laba yang telahterungkap dalam beberapa kasus skandal pelaporan akuntansi yang secara luasdiketahui, antara lain Enron, Merck, WorldCom dan mayoritas perusahaan lain di AmerikaSerikat (Cornett et al, 2006). Selain itu, di Indonesia juga terjadi halserupa, seperti PT. Lippo Tbk dan PT. Kimia Farma Tbk juga melibatkan pelaporankeuangan (financial reporting) yang berawal dari terdeteksi adanya manipulasi (Gideon,2005).

PT Kimia Farma diperkirakan melakukan mark up laba bersih dalamlaporan keuangan tahun 2001. Dalam laporan tersebut, Kimia Farma menyebutkanberhasil memperoleh laba sebesar Rp 132 miliar. Namun, laba yang dilaporkantersebut pada kenyataannya berbeda. Perusahaan farmasi ini pada tahun 2001sebenarnya hanya memperoleh keuntungan sebesar Rp 99 miliar. Sehubungan dengantemuan tersebut, maka sesuai dengan Pasal 102 Undang-undang Nomor 8 tahun 1995tentang Pasar Modal, Pasal 61 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995, danPasal 64 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 tentang PenyelenggaraanKegiatan di Bidang Pasar Modal, maka PT Kimia Farma (Persero) Tbk. dikenakansanksi administrative berupa denda yaitu sebesar Rp 500.000.000,-.

Sama halnya dengan kasus PT. Kimia Farma Tbk, PT.Katarina Utama Tbk diduga telah memanipulasi laporan keuangan sebagaimanadituduhkan oleh salah satu pemegang sahammnya. PT. Media Intertel Graha (MIG).

Tentang laporan keuangan 2009 yang mencantumkan adanya piutang usaha dari MIGsebesar Rp 8.606 miliar dan pendapatan dari MIG Rp 6.773 miliar. Selain itukatarina diduga telah melakukan penggelembungan aset dengan memasukkan sejumlahproyek fiktif senilai Rp 29,6 miliar dalam laporan perseroan. Dengan rinciandari PT Bahtiar Mastura Omar (BMO) Rp 10,1 miliar, PT Ejey Indonesia Rp 10miliar dan PT inti Bahana Mandiri Rp 9,5 miliar. (Sumber: Detik.

com).Manajemen laba yang dilakukan dan menyebabkanterjadinya kasus-kasus diatas merupakan perilaku yang tidak dapat diterima, karenamanajemen laba yang terjadi mengakibatkan suatu pengurangan dalam keandalaninformasi laporan keuangan. Investor mungkin tidak menerima informasi yangcukup akurat mengenai laba untuk mengevaluasi return dan risikoportofolionya (Ashari et.al.

, 1994) dalam Assih (2004). Leeuz et.al.

, (2002)menemukan bahwa tingkat manajemen laba di Indonesia relatif tinggi (rangking ke15 terbesar diantara 31 negara) dengan menggunakan data antara tahun 1990sampai 1999. Rangking manajemen laba Indonesia tersebut berada di atasThailand, Malaysia dan Filipina.Salah satu penyebab masalah keagenan antara manajerdan prinsipal adalah konflik kepentingan berkaitan dengan penggunaan arus kasbebas (free cash flow) perusahaan (Jensen, 1986). Arus kas bebas merupakankas yang tersisa dari pendanaan seluruh proyek yang menghasilkan net presentvalue (NPV) positif (Jensen, 1986).

Ross et al. (2000)mendefinisikan arus kas bebas sebagai kas perusahaan yang dapat didistribusikepada kreditur atau pemegang saham yang tidak digunakan untuk modal kerja atauinvestasi pada aset tetap. Jadi, arus kas bebas dapat disimpulkan sebagai sisakas yang dimiliki perusahaan, setelah perusahaan membiayai semua investasi danmodal kerja untuk kegiatan operasionalnya dalam rangka pengembangan usaha.Prinsipal dan manajer memiliki kepentingan yang berbeda dalam penggunaansejumlah arus kas bebas yang dimiliki perusahaan. Prinsipal berkepentinganuntuk memaksimumkan kekayaannya, sehingga menginginkan arus kas bebas tersebutdibagikan sebagai dividen. Namun, manajer lebih menginginkan arus kas bebastersebut digunakan untuk membiayai investasi. Manajer berinsentif untukmemperbesar perusahaan melebihi ukuran optimalnya sehingga tetap melakukaninvestasi meskipun pada akhirnya investasi tersebut tidak menghasilkanprofitabilitas yang memadai atau menghasilkan net present value negatif(Piramita, 2012).

Semakin besar ukuran perusahaan akan membuktikanproduktifitas manager. Dengan demikian, manajer akan memeroleh penghargaan danwewenang untuk mengendalikan perusahaan serta memberikan keamanan pekerjaan dankompensasi yang besar untuknya. Besarnya kendali manajer atas sumber dayaperusahaan akan memungkinkan manajer dapat menyalahgunakan sumber dayaperusahaan untuk kepentingan pribadinya.

Manajer beranggapan bahwa pembayarandividen kepada pemegang saham dapat mengurangi sumber ekonomi yang berada dalamkekuasaannya. Selain itu, pembayaran dividen lebih memungkinkan adanyapeningkatan monitoring oleh pasar modal ketika perusahaan harus menghimpunmodal baru untuk membiayai investasi (Jensen, 1986). Overinvesment yangdilakukan oleh manajer mungkin saja dapat meningkatkan ukuran perusahaan tetapitidak dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang. Adanyapenurunan kinerja atau penurunan laba akan menyebabkan penurunan tingkatpengembalian saham, yang mungkin akan memicu prinsipal untuk mengganti CEO dansenior eksekutif lain (Chung et al., 2005).

Dalam upaya untuk mencegahmelaporkan penurunan laba, manajer akan termotivasi untuk melakukan manajemenlaba dengan menerapkan prosedur akuntansi yang meningkatkan laba (incomemaximization) untuk menyembunyikan dampak negatif dari overinvesment yangdilakukannya. Hal ini didukung oleh penelitian Richardson (2006) dengan hasilpenelitian yang menyatakan bahwa arus kas bebas berpengaruh positif pada overinvesment.Penelitian mengenai arus kas bebas dan manajemen laba dilakukan Bukit danIskandar (2009), Kangarluei et al. (2011) serta Bhundia (2012) yangmemberikan kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang positif antara manajemenlaba dan arus kas bebas, dengan kata lain arus kas bebas dapat memotivasitindakan manajemen laba dan hubungan yang signifikan terjadi pada perusahaanyang memiliki arus kas bebas tinggi. Hasil penelitian ini mendukung hipotesis freecash flow dari Jensen (1986) dan hasil penelitian Chung et al. (2005).Berbeda dengan temuan tersebut, hasil penelitian Agustia (2013) serta Kono danYuyetta (2013) menunjukkan bahwa arus kas bebas memiliki hubungan negatif padamanajemen laba.Ukuran perusahaan sebagai proksi dari politicalcost, dianggap sangat sensitif terhadap perilaku pelaporan laba (Watt andZimmerman, dalam handayani dan Agustono, 2009).

Ukuran perusahaan yang seringdigunakan adalah nilai aktiva perusahaan. Menurut Anggraeni (2013) variabelukuran perusahaan dengan proksi total aset terbukti tidak berpengaruh secarasignifikan terhadap manajemen laba. Ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya suatuperusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-ratatotal penjualan, dan rata-rata total aktiva. Perusahaan yang besar mendapatperhatian lebih dari pihak eksternal seperti investor, kreditor maupunpemerintah.

Oleh karena itu, perusahaan yang berukuran besar lebih berhati-hatidalam melaporkan kondisi keuangannya, sedangkan perusahaan yang berukuran lebihkecil cenderung melakukan manajemen laba dengan melaporkan laba yang lebihbesar untuk menunjukkan kinerja keuangan yang memuaskan.Penelitian Chtourou et al. (2001), Lee andChoi (2002), Midiastuty dan Machfoedz (2003), Saleh et al.

(2005),Liu dan Lu (2007), dan Cornett et al. (2009) menemukan bahwa ukuranperusahaan mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap besaran pengelolaanlaba. Sedangkan menurut Guna dan Herawaty (2010) semakin besar aktiva yangdimiliki oleh perusahaan, maka semakin besar modal yang ditanam. Semakin besarjumlah penjualan, maka semakin besar pula perputaran uang di perusahaantersebut, dan semakin besar kapitalisasi pasar maka perusahaan tersebut semakindikenal oleh masyarakat.Berdasarkan penjelasan latar belakang diataspenelitian ini diberi judul “ANALISIS PENGARUHARUS KAS BEBAS DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP MANAJEMEN LABA (STUDI EMPIRIS PADAPERUSAHAAN MANUFAKTUR SUBSEKTOR ANEKA INDUSTRI TAHUN 2015-2016)”    1.

2 Rumusan Masalah            Berdasarkan latar belakang yangtelah dikemukakan diatas maka yang menjadi permasalahan penelitian ini adalah:1.      Apakaharus kas bebas dan ukuran perusahaan berpengaruh secara simultan terhadapmanajemen laba perusahaan manufaktur sub sektor aneka industri yang terdaftardi BEI tahun 2015-20162.      Apakaharus kas bebas berpengaruh secara parsial terhadap manajemen laba padaperusahaan manufaktur sub sektor aneka industri yang terdaftar di BEI tahun2015-2016 ?3.      Apakahukuran perusahaan berpengaruh secara parsial terhadap manajemen laba padapersuhaaan manufaktur sub sektor aneka industri yang terdaftar di BEI tahun2015-2016 ? 1.3 Tujuan Penelitian            Adapun yang menjadi tujuanpenelitian ini adalah:1.      Untukmemperoleh gelar Sarjana (S1) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UniversitasTanjungpura.

2.      Untukmengembangkan ilmu pengatahuan dan menjadi dasar pengambilan keputusan bagipara investor dan kreditur dalam berinvestasi atau meminjamkan dana.3.      Untukmengetahui apakah ada pengaruh arus kas bebas dan ukuran perusahaan secarasimultan terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur sub sektor anekaindustri yang terdaftar di BEI tahun 2015-2016.4.      Untukmengetahui apakah ada pengaruh arus kas bebas secara parsial terhadap manajemenlaba pada perusahaan manufaktur sub sektor aneka industri yang terdaftar di BEItahun 2015-2016.5.

      Untukmengetahui apakah ada pengaruh ukuran perusahaan secara parsial terhadapmanajemen laba pada perusahan manufaktur sub sektor aneka industri yangterdaftar di BEI tahun 2015-2016. 1.4 Manfaat Penelitian            Penelitianini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:1.      Bagipeneliti sendiri, sebagai sarana dalam pengembangan kemampuan dalam bidangpenelitian ilimiah dan penerapan teori yang diperoleh dari bangku kuliah.2.      Bagipeneliti selanjutnya, sebagai bahan referensi ataupun dasar pengembangan untukpenelitian-penelitian selanjutnya.

3.      Bagipihak investor ataupun kreditur, sebagai acuan atau tolak ukur dalam menentukankeputusan untuk menginvestasikan atau meminjamkan dana ke suatu perusahaan.4.      Bagipembaca penelitian ini, sebagai sarana pembelajaran mengenai faktor-faktor yangmempengaruhi manajemen laba.